"Saatnya yang Muda Bicara" - Netizen

“Saatnya yang Muda Bicara”

Diskusi LKIDN
Diskusi LK-IDN di Combi Cafe, Jalan Podomoro Pontianak, Minggu (23/07/2018). -Foto: Netizen.media-

NETIZEN.media-Menyambut Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sejumlah anak muda di Kota Pontianak yang tergabung dalam Lingkar Khatulistiwa Indonesia (LK-IDN) menggelar diskusi bertemakan “Saatnya yang Muda Bicara”.

perdana inn 3

Diskusi politik yang digelar di Combi Cafe, Jalan Podomoro Pontianak, Minggu (23/07/2018) ini menghadirkan tiga Pemantik, yakni Nugra Irianta, Jafar Fikri Alkadrie dan Evi Suryati. Masing-masing mewakili kelompok pemuda yang bergerak di dunia politik.

Dipandu Irwanda sebagai Penggagas LK-IDN, diskusi politik berjalan seru dan menyenangkan. Dimulainya dengan membuka pertanyaan yang ditujukan kepada Evi Suryati, terkait alasan perempuan terjun ke dunia politik.

“Saya mengikuti tren perempuan yang terjun di dunia politik. Kalau bukan perempuan yang menyuarakan tentang kebijakan yang pro terhadap perempuan dan anak, siapa lagi? Itu yang memotivasi Saya,” jawab Evi, yang juga tercatat sebagai anggota Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Borneo ini.

LK-IDN

Pembahasan kemudian melebar ke arah pemuda yang semakin banyak terjun ke dunia politik. Jafar misalnya, yang aktif di forum pengamat politik, lantas memaparkan data survei legislator muda yang pernah dibuatnya. “Kuantitas banyak, hanya yang berkualitas sedikit. Saat pencalonan, legislator muda ini tidak muncul karena kapasitas,” ungkapnya.

Menurut mahasiswa Semester III Magister Politik di FISIP Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini, legislator muda muncul karena beberapa faktor, yakni:

  1. Ikatan kekeluargaan yang membuat calon ini dapat terjun ke Partai Politik (Parpol). Seperti Ibas, putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan lain-lain.
  2. Memiliki modal besar.

Pernyataan Jafar itu pun diamini Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sambas, Nugra Irianta. Menurutnya, mahar politik memang selalu dibutuhkan untuk menjadi legislator.

“Ongkos politik itu tinggi. Karena untuk kampanye butuh ongkos, untuk daftar butuh ongkos, untuk menghadirkan saksi segala macam juga kan butuh ongkos,” beber Nugra.

Diskusi politik ini diikuti berbagai kalangan pemuda dengan latar belakang yang berbeda-berda, seperti dari kalangan mahasiswa, komunitas relawan Kota Pontianak, wirausaha, dan pengamat politik.

Berita Terkait
Komentar
Loading...