Petani Sambas Dapat Pelatihan Teknologi Ex-Vitro

Anggota Komisi VII DPR-RI, Katherine Angela Oendoen (ketika dari kiri) Desiminasi Teknologi Perbanayak Benih Hortikultura secara Ex-Vitro, di Kabupaten Sambas, Sabtu (25/08/2018).
Anggota Komisi VII DPR-RI, Katherine Angela Oendoen (ketiga dari kiri) saat Desiminasi Teknologi Perbanayak Benih Hortikultura secara Ex-Vitro, di Kabupaten Sambas, Sabtu (25/08/2018).

NETIZEN.media-Ratusan petani dari Desa Santaban, Kaliau dan perwakilan kecamatan lainnya di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalbar, mendapat pelatihan Ex-Vitro, teknologi untuk memperbanyak benih unggul, sederhana, cepat dan murah.

“Pelatihan untuk pemberdayaan dan peningkatan perekonomian masyarakat Sambas,” kata Katherine Angela Oendoen, Anggota Komisi VII DPR-RI, ketika membuka pelatihan tersebut di Sambas, Sabtu (25/08/2018).

Legislator Senayan dari Fraksi Gerindra Daerah Pemilihan (Dapil) Kalbar ini menggelar pelatihan untuk petani Sambas ini, dengan bekerjasama Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT).

Menurut Katherine, masih banyak yang belum mengenal Teknologi Ex-Vitro ini. Padahal dengan teknik ini, para petani dapat memperbanyak benih unggul dengan cara sederhana, cepat dan murah.

Ex-Vitro merupakan teknik menumbuhkan benih di luar wadah kaca pada lingkungan terkendali, dikerjakan di lapangan dengan membuat saching house dan inkubator. Bukan menggunakan listrik melainkan paranet dan gelas.

Setelah mendapatkan pelatihan tentang teknologi hasil invomasi BPPT ini, Katherine berharap para petani di Kabupaten Sambas dapat menerapkannya secara berkelanjutan.

Ia juga berharap, Teknologi Ex-Vitro ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan para peneliti perkebunan. “Semoga dapat disosialisasikan dan diimplementasi juga di daerah lainnya,” ucap Katherine.

Desiminasi teknologi seperti ini, lanjut Katherine, diharapkan dapat juga dilaksanakan di wilayahn terluar, terdepan dan tertinggal di Provinsi Kalbar. “Inilah bukti kehadiran pemerintah untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat di Indonesia,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Balai Bioteknologi BPPT, Agung Eru Wibowo mengungkapkan, tanaman buah-buahan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mendapat prioritas pengembangan. “Karena usaha perkebunan buah memberikan keuntungan maksimal bagi petani,” jelasnya.

Kendati Indonesia memiliki banyak komoditas buah-buahan. Sayangnya, negara yang dikenal sebagai pusat pengembangan buah, justru Thailand. Hal ini karena buah di Indonesia kurang didukung penggunaan benih yang bermutu. “Saat ini, penyediaan benih buah-buahan dilakukan dengan persemaian biji dan okulasi,” ungkap Agung.

Menurutnya, kelemahan dari benih hasil persemaian biji, di antaranya tidak dapat diperoleh dalam jumlah banyak. Sedangkan benih hasil okulasi seringkali mengalami inkompatibilitas yang menyebabkan gagalnya proses okulasinya. “Akibatnya, ketersediaan benih buah-buahan kurang mencukupi,” jelas Agung.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka diperlukan upaya lain untuk melestarikan tanaman buah dan mewujudkan kontinuitas ketersediaan benih yang sesuai dengan tuntutan keadaan saat ini. “Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan perbanyakan secara Ex-Vitro,” kata Agung.

Proses perbanyakan tanaman secara vegetative ini, ungkap dia, menggunakan bagian tanaman (eksplan) yang mempunyai fase pertumbuhan cepat. “Teknik ini merupakan mesin fotokopi untuk mendapatkan benih tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya,” jelas Agung.

Kelebihannya teknologi ini, rinci Agung, mudah, murah, perbanyakan massal, kesuksesan multiplikasi yang tinggi, mudahnya eksplan berakar, daya survival kuat pada tahap aklimatisasi, serta bisa dilakukan dekat dengan tempat budidaya.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...