Simalakama Vaksin Measles Rubella

dr Sidiq Handanu Widiyono MKes, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak dr H Sidiq Handanu Widiyono MKes saat membuka diskusi menyoal vaksin Measles Rubella. Foto: Resdi Mulyadi/Netizen.media

Netizen.media – Vaksinasi Measles dan Rubella (MR) bagaikan buah simalakama. Tidak divaksin bisa terkena campak. Kalau divaksin; sama saja mengonsumsi babi. Dilema!

Pemerintah berkeinginan Indonesia bebas campak dan rubella pada 2020. Untuk mencapai itu, pemerintah menempuh cara, memberikan vaksin Measles Rubella kepada anak-anak.

Namun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan vaksin Measles Rubella mengandung babi. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) pun tidak bisa mengeluarkan sertifikasi halal untuk vaksin tersebut.

Kabar soal halal haram vaksin Measles Rubella menyeruak dan tidak terkontrol. Dampaknya mempengaruhi minat masyarakat. Mayoritas tidak berkenan anaknya divaksin karena ada kandungan babi.

Pengaruh buruk itu ternyata membuat pemerintah galau. Capaian target untuk vaksinasi khususnya di Kota Pontianak terbilang rendah. Sehingga mengganggu program pemerintah menyukseskan Indonesia bebas campak dan rubella pada medio 2020.

Meski begitu, Pemerintah Kota Pontianak tidak kehabisan akal. Melalui Dinas Kesehatan, pemerintah coba merangkul seluruh elemen masyarakat untuk memahami pentingnya vaksin bagi anak-anak.

Senin, 27 Agustus 2018, Dinas Kesehatan Kota Pontianak mengadakan diskusi bersama komponen masyarakat, menghadirkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta dr Eva Nurifah Sp THT dan dr Raden Yutta Inten.

Diskusi itu mengupas tuntas isu vaksin Measles dan Rubella. Mulai kejelasan halal haram vaksin sampai akibat jika masyarakat tidak lapang dada memberikan vaksin kepada buah hati mereka.

Hasil diskusi itu, vaksin Measles Rubella dinyatakan positif mengandung babi. Namun MUI menyiratkan vaksin itu sah-sah saja dikonsumsi sepanjang untuk kepentingan keselamatan jiwa.

Disamping itu, jika masyarakat tidak memberikan vaksin, anak-anak mereka berpotensi menderita penyakit. Seperti jantung, gangguan telinga (pendengaran), katarak sampai kemungkinan tidak bisa bicara alias bisu.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...