Pemerintah Kurang Peka Terhadap Perasaan Umat Islam

Pengaturan Volume Pengeras Suara di Masjid

Azan
Ilustrasi-net

NETIZEN.media-Pengaturan volume pengeras suara di Masjid, Surau atau Musalah untuk azan, menunjukkan kalau Kementerian Agama (Kemenag) khususnya dan pemerintah pada umumnya, kurang peka terhadap perasaan umat Islam.

“Pengaturan tersebut sangat menggelitik dan menyinggung perasaan umat Islam,” kata Suriansyah, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, kepada wartawan, Senin (03/09/2018).

Suriansyah
Suriansyah

Memang Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan Bimas Kemenag itu hanya berupa pengaturan volume pengeras suara di Masjid, Surau atau Musalah. Namun memunculkan anggapan di kalangan umat Islam di Indonesia, bahwa pemerintah melarang azan menggunakan pengeras suara.

“Anggapan tersebut tentunya muncul karena selama ini pemerintah dirasakan tidak berpihak kepada umat Islam. Hal itu terlihat dari adanya beberapa kegiatan yang melibatkan umat Islam secara massal, terkesan dihalangi, dibatasi dan diatur-atur untuk menyulitkan,” papar Suriansyah.

Belum lagi adanya beberapa kasus yang dinilai sebagai upaya mengkriminalisasi Ulama dan umat Islam yang dilakukan pemerintahnya, khususnya pihak Polri.

Seharusnya, menurut Suriansyah, pemerintah lebih peka terhadap kondisi tersebut. Jangan sampai mengeluarkan kebijakan yang justru menimbulkan ketersinggungan umat Islam. “Hal ini tentunya dapat memperburuk pembangunan negara, terutama dari sisi keamanan,” ingatnya.

Kalaupun pemerintah ingin mengatur pengeras suara di tempat ibadah umat Islam itu, lanjut Suriansyah, seyogianya dilakukan secara bertahap dan langsung ke Masjid, Surau atau Musalah. “Berikan pengertian dan disertai bantuan alat pengeras suara yang menghasilkan suara azan yang lebih baik, merdu, enak didengar,” katanya.

Bukan dengan mengeluarkan pengaturan secara umum seperti sekarang berupa pembatasan-pembatasan. “Semestinya tidak dilakukan secara hingar bingar di publik. Karena hal itu akan ditafsirkan sebagai pelarangan, yang tentunya akan ditolak umat Islam,” papar Suriansyah.

Beberapa Kepala Darah, ungkap Suriansyah, sudah mengeluarkan perintah kepada umat Islam terkait pengaturan pengeras suara tersebut. “Ini akan menjelekkan citra dan kewibawaan pemerintah,” tegasnya.

Suriansyah mengajak para pembuat kebijakan di negeri untuk untuk bersama-sama mengelola umat atau bangsa ini dengan cara-cara yang lebih bijak, terhormat dan bermartabat. “Agar harmonisasi antarumat beragama menjadi lebih baik, tidak memunculkan kecurigaan-kecurigaan,” katanya.

Pengaturan pengeras suara azan tersebut, tambah dia, telah memunculkan kecurigaan kalau kebijakan tersebut berdasarkan desakan atau keinginan kelompok masyarakat atau umat beragama lainnya. “Kecurigaan-kecurigaan seperti ini tidak baik bagi persatuan dan kesatuan Republik Indonesia,” kata Suriansyah.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...