Tak Semua Berita Harus Memenuhi Unsur 5W+1H

Ketua Komisi Kompetensi PWI Pusat, Kamsul Hasan menjadi Pemateri Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender, di Hotel Harris Pontianak, Rabu (12/09/2018). -Foto: Netizen.media-
Ketua Komisi Kompetensi PWI Pusat, Kamsul Hasan menjadi Pemateri Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender, di Hotel Harris Pontianak, Rabu (12/09/2018). -Foto: Netizen.media-

NETIZEN.media-Apa (What), Siapa (Who), Kapan (When), Dimana (Where), Kenapa (Why), plus Bagaimana (How) atau karib disingkat 5W+1H, merupakan formula penulisan berita sebagai suatu karya jurnalistik.

Namun sejak 12 April 2018, ungkap Ketua Komisi Kompetensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Kamsul Hasan, tidak semua berita harus memenuhi unsur 5W+1H.

Karena pada tanggal tersebut, Dewan Pers dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait peliputan anak.

Waroeng V

“MoU tersebut menjadi landasan kerja sama perlindungan anak dengan tujuan menyelenggarakan pemberitaan yang ramah anak,” jelas Kamsul ketika menjadi Pemateri Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender, di Hotel Harris Pontianak, Rabu (12/09/2018).

MoU antara Dewan Pers dengan KPID tersebut tentunya sebagai landasan untuk mengintegrasikan perspektif perlindungan anak dalam praktik jurnalistik. “Mendorong terwujudnya pemberitaan ramah anak sesuai prinsip perlindungan anak,” kata Kamsul.

Ia menjelaskan, dalam teori ilmu jurnalistik, berita harus memenuhi unsur 5W+1H. Namun dalam konteks perlindungan anak, kelengkapan unsur itu tidak boleh melanggar Kode Etik Jurnalistik, apalagi Undang-Undang (UU).

Pair Kebab Habib River X
Berita Terkait
Komentar
Loading...