Jangan Sembarangan Gunakan Informasi Geospasial

Anggota Komisi VII DPR-RI, Katherine Angela Oendoen menerima buku-buku kebumian, saat Desiminasi IG di Aula Dekopinwil Kalbar, Sabtu (13/10/2018).
Anggota Komisi VII DPR-RI, Katherine Angela Oendoen menerima buku-buku kebumian, saat Desiminasi IG di Aula Dekopinwil Kalbar, Sabtu (13/10/2018).

NETIZEN.media-Di era digital sekarang, Informasi Geospasial (IG) sangat dibutuhkan dalam berbagai sendi kehidupan, termasuk untuk pembuatan kebijakan pembangunan. Namun peta berisi data alam dan sosial ekonomi ini, tidak boleh digunakan sembarangan.

“Ada hal-hal tertentu yang memang harus bisa diakses. Tetapi ada pula data yang bersifat rahasia,” kata Sugeng Prijadi, Inspektur Badan Informasi Geospasial (BIG), ketika Diseminasi Informasi IG di Graha Dekopinwil Provinsi Kalbar, Sabtu (13/10/2018).

Di hadapan lebih dari 100 peserta yang mewakili mahasiswa peraih beasiswa bidik misi se-Kalbar ini Sugeng menjelaskan, peta skala besar sangat penting untuk tata ruang.

Tetapi, tagging sembarangan untuk zona-zona militer dan rahasia, seharusnya tidak boleh dilakukan. Hal ini berkaitan dengan keamanan dan kedaulatan negara.

Contoh pemanfaatan IG secara benar dan nyata sudah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Medan. Dinas Pajaknya sangat terbantu dengan adanya data persil tanah, dan tagging by name by address di sana.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemkot Medan dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pun menjadi semakin meningkat. Hal semacam ini tentunya bisa diadopsi wilayah lain.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi VII DPR-RI, Katherine Angela Oendoen mengatakan, BIG memberikan informasi yang sangat penting untuk pemetaan wilayah, terlebih bagi Provinsi Kalbar yang mempunyai perbatasan negara.

“Wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, harus lebih peka terhadap patok batas wilayah yang sangat riskan,” ujar Katherine.

Seperti diketahui, lima kabupaten di Kalbar berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia, yaitu Sambas, Sanggau, Sintang, Bengkayang dan Kapuas Hulu. Tentunya secara geografis rawan konflik perbatasan.

Olehkarenanya, Katherine berharap mahasiswa sebagai calon pemimpin mengerti dan memahami kedaulatan dan keamanan negara, terutama di daerah yang memiliki pemicu konflik yakni potensi Sumber Daya Alam (SDA). “Mahasiswa-mahasiswa millenial harus melekatkan sense of place di seluruh aspek kehidupan,” katanya.

Senada juga disampaikan narasumber dari Pusat Standarisasi dan Kelembagaan Informasi Geospasial, Sumaryono. Diungkapkannya, dahulu perencanaan pembangunan Indonesia hanya menggunakan data statistik. Tetapi pertanyaan “di mana” pembangunan itu dilaksanakan, ternyata hanya berpusat di satu titik, yakni Jawa.

Untuk itulah, dasar perencanaan pembangunan tersebut selain menggunakan statistik juga menggunakan data spasial. Implikasinya sangat besar. “Peta merupakan visualisasi spasial yang paling efektif,” ujar Sumaryono.

Bidang ekonomi-bisnis, pertanian, kelautan, lingkungan, keamanan, dan sektor-sektor lain, tambah dia, tidak bisa dilepaskan dari The Beauty Art of Where.

“(Geospasial) Bukan ilmu baru, semua orang sebenarnya tahu. Tetapi mau atau tidak menggunakannya. Anak muda harus jeli memanfaatkan hal-hal seperti ini,” papar Sumaryono.

Sementara, Ketua Pusat Studi Pengembangan Informasi Geospasial (PSP-IG) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Heri Priyanto mengatakan, komunitas geospasial harus ditingkatkan.

“Harapannya, banyak perguruan tinggi dan vokasi membuka Program Studi kebumian, entah itu geodesi maupun geografi. Literasi geospasial penting bukan hanya untuk penunjuk jalan, tetapi juga menyangkut hajat hidup, bahkan kedaulatan negara,” ujar Heri.

river x
Komentar
Loading...