11 TKI Asal Aceh Terkatung-katung di Belantara Entikong

Dijemput Pulang Anggota DPD-RI asal Aceh

Anggota Komite II DPD-RI, Sudirman berbincang-bincang bersama 11 TKI asal Aceh, di Sekretariat DPD-RI Perwakilan Kalbar, Rabu (29/08/2018) pagi. -Foto: Netizen.media-
Anggota Komite II DPD-RI, Sudirman berbincang-bincang bersama 11 TKI asal Aceh, di Sekretariat DPD-RI Perwakilan Kalbar, Rabu (29/08/2018) pagi. -Foto: Netizen.media-

NETIZEN.media-Merasa ditipu habis-habisan, 11 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Aceh kabur dari perusahaan kebun sawit di Miri, Malaysia. Mereka terkatung-katung selama tiga hari tiga malam di belantara Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalbar.

“Mereka kehabisan bekal. Baju hanya apa adanya,” ungkap Anggota Komite II DPD-RI asal Aceh, Sudirman kepada awak media, di Sekretariat DPD-RI Perwakilan Kalbar, Rabu (29/08/2018) pagi.

Nasib tragis yang menimpa 11 TKI asal Aceh yang diketahuinya dari berita di salah satu media massa itu, membangkitkan simpati dan menggugah perasaan Sudirman untuk segera bertindak.

Lantaran sudah beberapa hari tidak ada pihak yang merespon, Sudirman pun membicarakan kemalangan 11 TKI asal Aceh tersebut kepada Ketua DPD-RI, Oesman Sapta Odang (OSO), selepas Paripurna yang dihadirinya.

Alhamdulillah beliau (OSO-red) menyambut baik untuk menyikapi permasalahan ini. Mereka ini harus kita bawa pulang di kampung halaman, karena orang tuanya resah,” ucap Sudirman.

OSO yang merupakan putra Kalbar dan Sudirman diketahui bersedia membiayai ongkos kepulangan para TKI nahas tersebut, menggunakan pesawat Pontianak-Medan, hari ini sekitar pukul 13.30 WIB. Dari Medan, mereka akan menuju rumah masing-masing menggunakan transportasi darat.

Setelah sampai di kampung halaman, Sudirman mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Aceh untuk memantau kasus ini. “Kemungkinan juga akan dibicarakan ke Wakil Gubernur Aceh,” katanya.

Sudirman mengungkapkan, para TKI yang terkatung-katung selama tiga hari tiga malam sebelum ditemukan Anggota Polsek Entikong tersebut, kabur karena ditipu agen penyaluran TKI.

Mereka diimingi gaji Rp9 Juta untuk bekerja di perusahaan perkebunan sawit di Miri, Malaysia. Kenyataannya, mereka hanya menerima Rp3 Juta per bulan. Itupun harus dipotong dengan biaya-biaya lain.

“Dipotong lagi Rp1 Juta untuk agen. Dipotong lagi untuk biaya makan, tempat tidur dan listri. Jadi sama juga bohong,” ungkap Sudirman.

Lantaran tidak tahan dengan kondisi tersebut, 11 TKI asal Aceh itu memutuskan untuk kabur dari perusahaan dengan menyusuri hutan. “Mereka keluar diam-diam. Paspor mereka masih ditahan agen. Kalau diminta, tentu tidak bisa,” ujar Sudirman.

Status agen itu pun, ungkap Sudirman, sepertinya tidak jelas. Jika memang agen resmi, tentulah memiliki mekanisme dan prosedur yang tidak melanggar peraturan, termasuk terkait pembayaran yang mesti sesuai dengan kesepakatan awal. “Berarti itu bukan perusahaan yang betul-betul punya izin resmi,” katanya.

Sudirman juga mengaku akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian di Aceh terkait perlakuan agen kepada TKI nahas tersebut. “Saya titip pesan kepada personel kepolisian, ke mana pun agennya lari, kejar sampai dapat. Ini mafia, ini penghisap darah namanya,” serunya.

Sementara itu, salah seorang TKI asal Aceh yang kabur, Julianur menceritakan, dirinya bersama rekan lain, sudah bekerja di perusahaan asal Malaysia tersebut selama 20 hari sejak awal Agustus.

Selama bekerja, mereka diperlakukan tidak adil, dan gaji yang diberikan pun tidak sesuai dengan janji agen. “Sampai di sana, kami disuruh kerja seperti banting tulanglah. Tetapi gaji kami seolah-olah untuk mereka semua,” ungkapnya.

Mereka juga dijaga sangat ketat pihak perusahaan, sejak pagi hingga pekerjaan selesai. “Pagi kami dijaga, siang kami dijaga, waktu kami kerja juga dijaga. Misalnya kalau sakit terkadang tidak dipedulikan. Harus kita melapor dulu baru dibawa ke rumah sakit,” beber Julianur.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...