Cakar-Cakaran Sosialita Kepiting Masuk Ronde II

kepiting
Ilustrasi-net

NETIZEN.media-Cakar-cakaran di Dapur Kepiting antara dua kubu sosialita, berujung saling lapor ke kantor polisi. Kini mereka mendeklarasikan perang urat saraf. Masing-masing mengklaim yang paling benar.

Keterangan Heri, suami CN terkait perseteruan usai makan kepiting pada Selasa (28/08/2018) itu, dibantah habis-habisan oleh kubu LU.

Bukan langsung disampaikan LU, melainkan kakaknya, CN. Kepada NETIZEN.media, Ia mengatakan, kejadian sebenarnya tidak seperti yang disampaikan Heri yang saat cakar-cakaran itu, tidak di tempat.

Saat itu, CA mengaku bersama adiknya LU yang sedang sakit. Juga ada kakaknya. Mereka mendiskusikan, LU ini akan diobati ke Rumah Sakit (RS) mana.

Mereka bertiga lebih dahulu datang ke Dapur Kepiting ketimbang kubu CN yang katanya sedang merayakan ulang tahun itu. “Rombongan itu memang sedikit berisik,” kata CA saat ditemui di Mapolda Kalbar, Jumat (31/08/2018) siang.

Lantaran merasa terganggu, CA pun memanggil salah seorang karyawan Dapur Kepiting, untuk menyampaikan kepada CN dan rombongannya, agar mengecilkan sedikit suaranya.

“Kami menyuruh mereka mengecilkan sedikit suaranya. Bukan menyuruh mereka jangan ribut atau jangan berisik. Kami hanya minta dikecilkan suaranya,” kata CA.

Mereka seperti tidak menghiraukan permintaan yang disampaikan karyawan tersebut. Makanya CA menegur CN dan rombongannya itu secara langsung. Namun juga diabaikan.

Menurut CA, gerombolan mereka ini tidak toleran. Tidak bisa mengerti kalau Dapur Kepiting itu tempat umum. “Sudah dikasig tahu untuk mengecilkan suara, tetapi mereka tidak mau,” katanya.

Akhirnya CA dan adiknya pergi ke lantai atas untuk membayar tagihan. Jadi, bukan membayar di lantai bawah seperti yang disampaikan Her. “Saat kami pergi, mereka malah makin kencang, menepuk meja sambil menyerukan wuuuu,” ujarnya.

Setelah membayar di lantai atas, CA bersama LU turun lagi. Di saat yang bersamaan, CN dan gerombolannya juga ke lantai dasar.

Pas di tangga, CA sempat komplain lagi dengan salah seorang karyawan Dapur Kepiting, menggunakan Bahasa Indonesia, bukan bukan Tionghoa seperti yang diungkapkan Heri, suami CN.

Ketika komplain itu, ternyata ada salah seorang dari gerombolan CN yang mengikuti dari belakang. Kemungkinan orang itu mendengar komplainnya.

“Saya bicara kepada karyawan, bukan ke orang itu. Saya nggak mengarah ke dia. Kecuali Saya langsung bicara ke dia, boleh marah. Saya kan bicara dengan orang. Belum tentu Saya membicarakan dia,” kata CA.

Adu mulut pun tidak terhindarkan. Kemudian CA bersama LU dan kakaknya berjalan menuju parkiran. “Saat berjalan, posisi LU paling belakang,” ungkap CA.

Saat itu, ada dua sampai tiga orang dari rombongan CN di kasir. Salah seorangnya LH. “Tiba-tiba adik Saya yang jalan di belakang, berbalik arah, menyuruh orang itu untuk menjaga omongannya. Hati-hati, jangan sembarangan bicara,” papar CA.

Kemudian salah seorang dari rombongan itu langsung memukul LU yang langsung berteriak. Terjadilah perkelahian. “Saya bersama kakak, beserta karyawan datang melerainya,” cerita CA.

Peleraian itu dilakukan ketika LU dan LH yang berkelahi, sudah tengkurap di lantai dengan posisi saling menarik rambut. “Kami bahkan tidak tahu yang mana adik kami. Rambut udah tertutup. Sama-sama rambut hitam, sama-sama baju hitam,” lanjut CA.

LU, lanjut CA, dipukul LH dengan tinju, mengenai telinga kirinya. “Telinga kiri adik Saya memar dan berdarah. Dagu dan kedua tangannya luka karena cakar. Perutnya juga memar karena ditendang salah seorang teman LH,” beber CA.

Karena luka-luka sedemikian banyaknya akibat dikeroyok itu, LU sampai harus dirawat inap di RS Bhayangkara Pontianak (Dokkes).

Sementara itu, Kapolsek Pontianak Kota, Kompol Abdullah Syam masih menyelidiki perkelahian dua kubu sosialita di Dapur Kepiting tersebut. “Gelar perkara awal sudah dilakukan di Mapolsek Pontianak kota,” katanya.

Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Wawan Kristyanto juga berpesan untuk memproses kedua laporan dari kedua belah pihak.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...