Ini Perbedaan Jenis Kelamin dan Gender

Kabid Partisipasi Media Cetak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Susanti menjadi Pemateri Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender, di Hotel Harris Pontianak, Rabu (12/09/2018). -Foto: Netizen.media-
Kabid Partisipasi Media Cetak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Susanti menjadi Pemateri Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender, di Hotel Harris Pontianak, Rabu (12/09/2018). -Foto: Netizen.media-

NETIZEN.media-Tidak bisa dimungkiri, masih banyak yang tidak bisa membedakan antara jenis kelamin (sex) dengan gender. Padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

“Jenis kelamin terkait ciri dan fungsi. Sedangkan gender lebih pada citra dan peran,” kata Susanti, Kepala Bidang (Kabid) Partisipasi Media Cetak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

Susanti menyampaikan hal tersebut ketika menjadi pemateri dalam Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender bagi Pers di Provinsi Kalbar, di Hotel Harris Pontianak, Rabu (12/09/2018).

Lebih lanjut Susanti menjelaskan, jenis kelamin merupakan perbedaan ciri dan fungsi organ biologis pria dengan perempuan, khususnya pada bagian reproduksi.

“Jenis kelamin merupakan ciptaan Tuhan, bersifat kondrat, tidak dapat berubah, tidak dapat ditukar, serta berlaku kapan dan di mana saja,” terang Susanti.

Sedangkan gender merupakan perbedaan peran, fungsi dan tanggungjawab antara pria dengan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial.

“Gender merupakan buatan manusia, tidak bersifat kodrat, dapat berubah, dapat ditukar, serta tergantung waktu dan budaya setempat,” jelas Susanti.

Menurut Susanti, gender merujuk pada cara berbeda antara (anak) perempuan dengan (anak) lelaki, ketika dibesarkan, diajari perilaku, dan diharapkan oleh (masyarakat budayanya) sejak ia dilahirkan.

“Menciptakan peran yang dianggap pantas untuk perempuan dan yang pantas untuk pria. Disebut peran gender. Kemudian menciptakan hubungan perempuan dan pria didasarkan peran gender. Disebut hubungan (relasi) gender,” papar Susanti.

Pada konsep gender, muncul bentuk-bentuk ketidakadilan. Di antaranya subordinasi, marginalisasi, beban ganda, kekerasan, steoretype atau pelabelan negatif.

Bentuk-bentuk ketidakadilan gender tersebut disebabkan beberapa hal. Di antaranya:

  1. Nilai sosial dan budaya patriarkhi
  2. Produk dan peraturan perundang-undangan yang masih bias gender
  3. Pemahaman agama yang tidak komfrehensif dan cenderung parsial
  4. Kelemahan, kurang percaya diri, tekad, dan inkonsistensi kaum perempuan dalam memperjuangkan nasibnya.
  5. Kekeliruan persepsi dan pemahaman para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, tokoh agama terhadap arti serta makna kesetaraan dan keadilan gender

Untuk menghadapi bentuk-bentuk ketidakadilan itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mempunyai Pengarus-Utamaan Gender (PUG).

Susanti menjelaskan, PUG merupakan strategi yang dilakukan secara rasional dan sistematis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan.

Di antaranya melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan pria ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...