Polda Kalbar Gagalkan Perdagangan Kucing Kuwuk

Kucing Kuwuk (Prionailurus Bengalensis) yang dijual YS di kiosnya, di Desa Peniti Luar, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah, Kalbar, Kamis (13/09/2018)
Kucing Kuwuk (Prionailurus Bengalensis) yang dijual YS di kiosnya, di Desa Peniti Luar, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah, Kalbar, Kamis (13/09/2018)

NETIZEN.media-Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalbar menggagalkan perdagangan Kucing Kuwuk (Prionailurus Bengalensis), satwa liar yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 (UU 5/1990) tentang Sumber Daya Alam (SDA) Hayati dan Ekosistemnya.

“Barang bukti yang diamankan antara lain 4 ekor Kucing Hutan yang terdiri atas 2 ekor jantan dan 2 ekor betina, serta 2 kandang,” kata Irjen Pol Didi Haryono, Kapolda Kalbar, melalui press release yang disampaikan, Kaur Lipprodok) Humas Polda Kalbar, AKP Cucu Safiyudin, Jumat (14/09/2018).

Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, kucing hutan tersebut masuk daftar mamalia nomor urut 58. Status keterancamannya berdasarkan IUCN Red List adalah Least Concern. Sedangkan dalam CITES termasuk Appendix II.

Penggagalan perdagangan satwa liar tersebut bermula ketika Tim Subdit IV Ditreskrimsus Polda Kalbar mengecek Toko Novasi milik YS di Jalan Raya Peniti Luar, Kecamatan Sekedong, Kabupaten Mempawah, yang diduga menjual berbagai jenis burung dan kucing hutan, Kamis (13/09/2018).

Pada pemeriksaan tersebut, ditemukan 4 ekor kucing hutan di dalam kadang. YS mengaku, hewan dilindungi itu dibelinya dari masyarakat dengan harga Rp30 Ribu per ekor. Kemudian akan dijualnya kembali kepada yang berminat Rp200 Ribu per ekor.

Atas perbuatannya, YS disangkakan dengan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Kucing hutannya telah kami titikpkan di BKDSA Kalbar Wilayan VIII Pontianak, untuk dirawat selama proses sidik,” kata Kapolda Didi Haryono.

Dalam penegakan hukum dalam kasus perdagangan satwa dilindungi ini, kata Didi, Polda Kalbar bersinergi dengan Badan Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK), Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDAE), Dinas Karantina, Dinas Kelautan dan Perikanan, Bea Cukai serta Pemerintah Daerah.

Terkait perdagangan satwa dilindungi ini, Didi memastikan, tidak akan main-main. Karena setiap tahun jumlah satwa endemik Kalbar selalu menyusut. “Habiat satwa liar tentu di alam liar. Bukan diperjualbelikan atau dipelihara. Kalau sayang binatang, bukan memeliharanya, tetapi melestarikannya,” tegasnya.

Terpisah, Direktur Yayasan TITIAN Lestari, Sulhani mengapresiasi Subdit 4 Ditreskrimsus Polda Kalbar karena menggagalkan perdagangan satwa liar yang dilindungan.

Ia mengungkapkan, Kucing Kuwuk (Prionailurus Bengalensis) diketahui dapat hidup hingga usia 15 tahun. Namun kehilangan giginya menginjak usia 8 sampai 10 tahun. Bagi yang betina, dapat melahirkan satu sampai empat anak dengan masa kehamilan 56 sampai 70 hari.

Populasi Prionailurus Bengalensis di Jepang (Pulau Tsushima) diperkirakan kurang dari 100 individu, berkurang dari 200 sampai 300 individu yang diperkirakan ada kurun 1960 hingga 1970.

“Sedangkan homerange-nya, berdasarkan penelitian, di Thailand dan Borneo mencapai rata-rata luas 3,5 sampai 4,5 Kilometer persegi,” kata Sulhani.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...