Jangan Terpancing Postingan Akun Facebook Monik

Perwakilan LBH Tri Dharma Indonesia, Lipi ditemui wartawan di halaman SMP Negeri 13 Pontianak, Rabu (26/09/2018). -Foto: Netizen.media-
Perwakilan LBH Tri Dharma Indonesia, Lipi ditemui wartawan di halaman SMP Negeri 13 Pontianak, Rabu (26/09/2018). -Foto: Netizen.media-

NETIZEN.media-Seluruh masyarakat, khususnya di Kota Pontianak, jangan terpancing dengan postingan akun Facebook Monik yang menuding Kepala SMP Negeri 13 Pontianak, Sri Azyanti mengeluarkan kalimat sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) terhadap peserta didiknya.

“Terkait informasi-informasi yang beredar di luar, kami meminta semua untuk tenang, untuk tidak terpancing, tetap menyikapi ini dengan bijak dan arif,” kata Perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Tri Dharma Indonesia, Lipi, ditemui usai klarifikasi ke SMP Negeri 13 Pontianak, Rabu (26/09/2018) pagi.

Begitu mengetahui kehebohan warganet terhadap postingan akun Facebook Monik tersebut, Lipi memang langsung datang menemui Kepala SMP Negeri 13 Pontianak, Sri Azyanti untuk memastikan kebenarannya.

Sebelum menemui Sri Azyanti secara langsung, Lipi mengaku telah berkomunikasi dengan pemilik akun Facebook Monik, yang memang merupakan orangtua salah seorang pelajar di SMP Negeri 13 Pontianak. “Saya sudah menelepon ibu Monik,” akunya.

Setelah mendapatkan keterangan dari kedua belah pihak, yakni antara Monik selaku orang tua pelajar dan Sri Azyanti selaku pihak SMP Negeri 13 Pontianak, Lipi pun dapat menyimpulkan terkait masalah yang menyinggung isu paling sensitif tersebut.

“Ternyata semuanya hanya miskomunikasi. Apalagi mereka (Monik dan Sri Azyanti) sudah ada niat untuk bertemu. Dinas Pendidikan pun sudah mengetahuinya. Berarti ada langkah-langkah yang sangat progresif buat mereka menyelesaikannya,” papar Lipi.

Terkait deskriminasi seperti yang dipostingkan akun Facebook Monik tersebut, Lipi menduga bukan kali pertama terjadi di Kota Pontianak. “Akan kami telusuri. Tidak menutup kemungkinan juga terjadi di SMP lainnya di Kota Pontianak,” duga Lipi.

Kalau memang perlakuan deskriminatif terhadap peserta didik itu benar-benar terjadi, kata Lipi, tentunya terdapat sesuatu yang salah yang perlu segera diluruskan. “Berarti ada sesuatu di balik semua ini,” ujar Lipi.

Ia berharap, kasus antara Monik dan Sri Azyanti ini menjadi pelajaran bagi semua pihak. “Supaya tidak terjadi di sekolah-sekolah lainnya,” tutup Lipi.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...