Oknum Sipir Kolaborasi dengan Gembong Narkoba

lapas
Ilustrasi-net

NETIZEN.media-Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) dan Polda Kalbar berhasil mengungkap persekongkolan antara oknum sipir dengan tiga gembong Narkoba di Rumah Tahanan (Rutan) Pontianak.

“Tidak ada toleransi untuk sipir yang terlibat. Kita tindak tegas,” geram Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Kalbar, Rochadi Imam Santoso, ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (08/10/2018).

Rochadi mengaku masih menunggu hasil dari proses dari kepolisian mengenai keterlibatan WF tersebut. “Dari internalkan kita, sudah pasti ada sanksi untuk dia. Di antaranya, pemangkasan gaji 50 persen, tidak mendapatkan tunjangan dan sebagainya. Selain itu, kita berhentikan sementara,” ungkapnya.

Ia juga akan menyurati pusat terkait keterlibatan oknum sipir WF ini. “Kita tidak bisa memecatnya. Itu wewenangya di Kementerian,” jelas Rochadi.

Persekongkolan jahat antara WF dengan gembong Narkoba tersebut terungkap pada Jumat (05/10/2018) sekitar pukul 10.00 WIB, ketika BNNP dan Polda Kalbar menangkap Man yang membawa 400 butir ekstasi untuk diserahkan ke Darmadi, warga binaan Rutan Pontianak.

Man tidak langsung menyerahkan barang perusak generasi penerus bangsa itu ke Darmadi sang gembong Narkoba, melainkan melalui sipir Rutan Pontianak, WF.

Begitu kepergok dan diinterogasi, WF pun “bernyanyi” kepada petugas BNNP dan Polda Kalbar. Katanya, bukan hanya Darmadi yang terlibat, tetapi juga ada dua warga binaan lainnya, yakni Iwan Pemda dan Boang.

Setelah berkoordinasi dengan Kadiv Pas Kemenkumham Kalbar, petugas BNNP dan Polda Kalbar pun langsung menciduk ketiga warga binaan atau narapidana yang masih leluasa mengontrol peredaran Narkoba di luaran itu.

Rochadi mengungkapkan, Darmadi, Iwan Pemda dan Boang ini merupakan gembong Narkoba. “Semua warga binaan di Rutan segan dan tunduk kepada ketiganya,” ucapnya.

Sebagai zona merah Narkoba, tambah Rochadi, di Kalbar ini memang banyak gembong Narkoba. Hal itu sudah bikin emosi, apalagi ternyata oknum sipir juga menjadi kaki tangan mereka.

Fakta pahit ini, kata Rochadi, membuat pihaknya akan semakin gencar melakukan upaya-upaya untuk meminimalisir peredaran Narkoba, terutama di Lapas dan Rutan. “Sekarang ini bukan hanya warga binaan yang dilarang menggunakan handphone, sipir juga kita perlakukan sama,” tegasnya.

Kolaborasi antara warga binaan dengan oknum sipir dalam mengedarkan Narkoba ini, ungkap dia, bukan hanya di Provinsi Kalbar, tetapi juga di seluruh Indonesia. Ini harus segera diantisipasi.

Selain masalah keterlibatan oknum sipir tersebut, upaya menekan atau mengungkap peredaran Narkoba di Lapas dan Rutan juga dihadapkan pada ketakutan para sipir.

Contohnya, ungkap Rochadi, ada sipir yang berhasil menemukan Narkoba. Kemudian diapresiasi dengan kenaikan pangkat dan jabatan. Eh malah dia menolak. “Jadi petugas saja takut. Mereka takut ditekan para pelaku Narkoba,” katanya.

Belum lagi, lanjut dia, rasio jumlah warga binaan sangat jauh dengan sipir. Begitulah kondisi Lapas dan Rutan saat ini.

my home
Berita Terkait
river x
Komentar
Loading...