Makin Ketir, Anak Petani Kopra Sampai Ngadu ke Suriansyah

Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Suriansyah mendengarkan keluhan Aliansi Anak Petani Kopra, di ruang kerjanya, Rabu (05/12/2018). -Foto: Dhuha-
Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Suriansyah mendengarkan keluhan Aliansi Anak Petani Kopra, di ruang kerjanya, Rabu (05/12/2018). -Foto: Dhuha

Netizen.media – Menukiknya harga komoditas pertanian di Provinsi Kalbar benar-benar telah meresahkan masyarakat. Bukan lagi soal untung dan rugi, tetapi sudah mengancam kelangsungan pendidikan anak-anaknya.

Alhasil, beberapa mahasiswa yang seyogianya duduk di bangku kuliah untuk memenuhi Sistem Kredit Semester (SKS), lebih memilih untuk mengadu ke DPRD Provinsi Kalbar, Rabu (05/12/2018) pagi.

Kedatangan mahasiswa-mahasiswa dari Aliansi Anak Petani Kopra ini disambut hangat Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Suriansyah, di ruang kerjanya.

Suriansyah
Suriansyah

Salah seorang mahasiswa yang menginisiasi berdirinya Aliansi Anak Petani Kopra, Imran Ramadhan mengungkapkan, rekan-rekannya mendapatkan informasi memprihatinkan dari orangtua dan masyarakat di kampungnya.

“Kawan-kawan ini, kuliah pakai duit kopra. Mereka resah, karena harga kopra turun drastis sejak enam bulan terakhir, dari Rp8.000 menjadi sekitar Rp2.000,” ungkap Imran di hadapan Suriansyah.

Jebloknya harga kopra tersebut, seperti yang terjadi di Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, membuat para petani meminta anak-anaknya yang kuliah di kota, untuk membantu mencarikan solusi, bagaimana agar harga kopra pulih kembali.

“Orangtua kita di kampung merasa bingung. Ini masalahnya apa, dan apa yang mesti mereka lakukan. Bahkan para petani ini sampai siap untuk ikut demo,” ujar Imran.

Mendapati keluhan dari para petani itu, Imran dan rekan-rekannya pun berinisiatf untuk mengadukan masalah yang juga mengancam keberlangsungan perkuliahannya ini ke DPRD Provinsi Kalbar.

“Walaupun kita lihat harga semua hasil perkebunan ini turun. Tetapi kan tidak separah ini. Masa depan harga komoditas-komoditas ini sebenarnya bagaimana, petani ingin mengetahuinya, apakah masih ada harapan,” ucap Imran.

Dia menambahkan, saat ini para petani lebih memilih untuk “meninggalkan” sementara perkebunan kelapanya. Karena tidak ada harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya pendidikan anak-anaknya.

Kedatangan beberapa mahasiswa yang menyampaikan aduan masyarakat petani tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Suriansyah. “Beginilah peran sebenarnya dari Organisasi Kepemudaan (OKP),” katanya.

Beberapa mahasiswa yang juga bagian dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) itu, dinilai Suriansyah telah mengambil langkah yang tepat. “Bukan membuat suatu gerakan yang tidak jelas tujuannya. Mereka menyampaikan aspirasi melalui saluran yang benar,” pujinya.

Kalaulah saluran yang benar ini tersumbat, kata Suriansyah, tidak dilarang untuk berunjukrasa. “Demo boleh dilakukan apabila aspirasi yang disampaikan secara baik-baik tidak ditanggapi,” paparnya.

Guna mempertajam perjuangan terkait nasib masyarakat petani ini, Suriansyah menyarankan para mahasiswa tersebut untuk membuat semacam surat aduan yang dilengkapi dengan kondisi masyarakat petani atau pekebun.

“Kondisi riil harga kopra, kelapa, dan imbasnya terhadap petani. Bagaimana pemeliharaannya dan lainnya. Termasuk dampaknya bagi perekonomian keluarga, kuliah anak dan lainnya,” kata Suriansyah.

Kemudian meminta audensi atau bertemu instansi terkait. Misalnya, Dinas Perkebunan, Perdagangan atau Dewan Ketahanan Pangan yang diketuai Gubernur Kalbar.

“Bawa tokoh masyarakat, pemuda atau petani yang betul-betul memahami kondisi harga komoditas. Kemudian sampaikan masalah ini ke instansi terkait dan minta solusinya,” ujar Suriansyah.

Sementara DPRD Provinsi Kalbar, lanjut dia, akan menyampaikan persoalan ini ke Pemerintah Pusat. “Kebetulan besok, kami akan berangkat ke Kementerian Perdagangan. Secara umum, permasalahan petani Kalbar akan kami suarakan, supaya ada solusinya,” ucap Suriansyah.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...