MiChat, Sarang Baru Prostitusi Online di Kota Pontianak

Prostitusi Online

Netizen.media – Belum lekang dari ingatan tentang BeeTalk yang menjadi ajang transaksi esek-esek di Kota Pontianak, Provinsi Kalbar. Muncul lagi aplikasi perpesanan (chat) gratis yang serupa, MiChat.

Lantaran transaksi di BeeTalk terdeteksi Polisi, para pemuas birahi beralih ke MiChat yang juga memiliki fitur untuk menemukan orang-orang baru di sekitar; dalam jangkauan 50 Meter, 100 Meter, bahkan 1 Kilometer.

my home

Bahkan lebih ajib lagi, MiChat memiliki fitur spesial “Pesan dalam Botol”, mendukung pesan teks, suara dan video yang bisa dilempar sembarang untuk mencari seseorang yang spesial.

MiChat
Logo MiChat-net

Fitur-fitur MiChat tentunya sangat mendukung untuk menawarkan berbagai jasa, tidak terkecuali pemuas birahi. Alhasil bermunculanlah akun-akun yang siap menerima pesanan pijat plus-plus hingga indehoi.

Akun-akun yang menawarkan jasa untuk para lelaki hidung belang ini rerata wanita berusia 19 hingga 35 tahun. Bukan hanya lajang, banyak pula yang sudah berstatus janda.

Tarif yang mereka pasang sangat variatif. Untuk pijat misalnya, Rp150 Ribu. Namun kalau “kliennya” minta lebih (plus-plus) akan bertambah menjadi Rp500 Ribu.

Sementara untuk jasa di atas ranjang, short time kisaran Rp500 Ribu hingga Rp1 Juta. Sedangkan long time bisa mencapai Rp2,5 Juta.

Open order terpasang di bio akunnya. Mereka standby di hotel dan indekost. Siap sedia menerima orderan dari orang-orang yang “menemukannya” di MiChat.

Salah seorang pengguna jasa mereka, sebut saja Kumbang mengungkapkan kepada Netizen.media, bahwa wanita-wanita yang menawarkan jasanya melalui MiChat itu memiliki kelas tersendiri; standard dan high class.

“Tarif mereka berbeda-beda. Tentunya high class lebih wow,” ungkap Kumbang yang memang doyan menjelajahi dunia maya untuk mencari wanita yang bisa diajak kencan hingga ditiduri.

Kumbang mengaku, pas dompetnya sedang tebal, sudah pasti memburu pemilik akun MiChat yang high class. Namun bila sedang menipis, cukup yang standard saja.

“Perbedaannya jelas, yang high class lebih cantik, bersih dan pelayanannya luar biasa. Kemudian tempatnya pun, mereka tidak ingin di tempat biasa, dalam artian harus tempat yang mewah, hotel berbintang,” kata Kumbang.

Rutin mencari wanita penghibur di MiChat, lanjut Kumbang, bukan berarti dia tidak memiliki pasangan. Tetapi karena ingin mendapat sensasi luar biasa dalam berhubungan layaknya suami istri.

“Kalau high class itu mereka akan melayani kita sesuai yang kita minta. Tetapi siap-siap melayang Rp2 Juta sampai Rp3 Juta. Itu di luar biaya penginapan,” beber kumbang.

Lantaran sering bermain MiChat, Kumbang pun mengetahui kalau wanita-wanita yang menawarkan jasa lendir itu kebanyak dari luar Kalbar. “Ada juga warga Kalbar, tetapi sedikit yang menjalankan hal-hal seperti ini,” ungkapnya.

Bukan hanya seluk beluk wanitanya, Kumbang juga mengetahui betul hotel berbintang mana saja di Kota Pontianak ini yang kerap menjadi tempat “eksekusi”.

Makanya dia tidak segan-segan menawarkan kepada teman-temannya dari luar Kalbar, ketika berkunjung ke Kota Pontianak.

“Biasa teman-teman saya dari luar Kalbar minta dicarikan. Saya suruh buka MiChat saja, muncul itu. Karena wanita-wanita itu terang-terangan,” kata Kumbang.

Bila Kumbang mainannya wanita high class, lain lagi ceritanya dengan Long Leman (nama samaran) yang juga pilih memilih akun-akun wanita di MiChat.

Kepada Netizen.media, Long Leman mengaku kerap menghabiskan gajinya untuk wanita pemilik akun di MiChat. Tetapi cukup untuk yang standard class saja. “Biasalah, namanya juga laki-laki,” ketusnya.

Long Leman bukan ingin mendapatkan fantasi seks yang luar biasa, makanya dia bukan pengguna wanita high class. Warga Pontianak ini memilih yang standar, hanya untuk memuaskan birahinya. “Rata-rata Rp500 Ribu, sudah sama tempat,” ungkapnya.

Standar memang standar, tetapi Long Leman enggan juga sembarang pilih. Diutamakannya yang paling cantik. “Cantik itu perlu, sensasinya ada di situ,” akunya.

Untuk memastikan pemilik akun MiChat itu cantik, Long Leman bukan hanya minta dikirimi foto terlebih dahulu. “Ketemu dulu. Kalau foto bisa menipu. Rugi saya,” sambungnya.

Setelah dirasa sesuai selera, Long Leman pun membawa wanita pemuas birahi itu ke hotel. Paling sering di bilangan Kecamatan Pontianak Selatan. “Biasa juga di indekost. Kan ada kost di Pontianak ini yang bisa sewa per hari,” bebernya.

Sembari menarik dalam-dalam filter di kepitan jarinya, Long Leman mengaku sebagai pengguna setia aplikasi BeeTalk. “Sekarang sudah ganti aplikasi. Coba saja cek. Banyak itu di MiChat,” katanya menawarkan.

Guna memastikan keterangan Kumbang dan Long Leman ini, Netizen.media pun mencoba mengunduh (download) MiChat di Google PlayStore.

Begitu MiChat dibuka dan mencari orang-orang di sekitar yang berjenis kelamin wanita, bermunculan akun-akun, memang tidak semua, tetapi mayoritas menawarkan jasa birahi; prostitusi online.

Sebut saja akun Merica (bukan nama sebenarnya; jadi jangan coba mencarinya di MiChat). Wanita ini standby di salah satu hotel berbintang di Kota Pontianak. Di bionya tertulis BO ST/LT (=Booking Order Short Time/Long Time).

Wanita berusia 22 tahun berwajah oriental ini mamatok tarif Rp1,5 Juta sampai Rp2,5 Juta untuk long time, dan Rp700 Ribu sampai Rp1 Juta untuk short time. “Itu semua diluar penginapan,” ucap Merica.

Ia mengaku baru dua tahun terakhir menyediakan jasa untuk para lelaki hidung belang ini. Juga migrasi dari BeeTalk ke MiChat. “BeeTalk sekarang susah digunakan. Akhirnya pindah ke MiChat,” kata Merica.

Menurut Merica, aplikasi MiChat ini mirip dengan BeeTalk versi lama. “Masih sama sistem penawarannya. Kita pasang saja di bio BO, ST/LT. Lelaki yang biasa menggunakan jasa ini, pasti sudah tahu istilah-istilah seperti itu,” bebernya.

Di jalan kelam yang ditempuhnya ini, Merica menyadari betul selalu diincar aparat hukum. Namun, sedapat mungkin ia hindari. “Kita sudah tahu, banyak yang sudah ditangkap (Polisi). Semoga saja saya tidak,” harapnya tanpa gentar.

Sebenarnya, lanjut Merica, untuk menghindari buruan Polisi, para penyedia jasa prostitusi online ini menggunakan perantara (semacam mucikari). Namun ia lebih memilih solo karir, menawarkan diri secara personal melalui MiChat.

Selain Merica yang melaju di jalur short time dan long time, terdapat pula akun MiChat Lada (sebut saja begitu). Wanita 25 tahun yang bekerja sebagai terapis di salah satu panti pijat di Kota Pontianak ini, menyediakan jasa plus-plus.

Lada menawarkan jasa pijat dengan tarif Rp150 Ribu. Namun untuk plus-plus, harus lebih dari itu. “Kita bisa full service, tergantung budgetnya,” ungkapnya tanpa basa-basi.

Dia sengaja menawarkan pijat plus-plus di MiChat, lantaran banyak lelaki hidung belang yang mengharapkannya. “Iya…banyak. Jadi saya juga menawarkan plus-plus di aplikasi itu,” kata Lada.

Satu hari, Lada bisa melayani dua sampai lima lelaki hidung belang. Dengan tarif minimal Rp500 Ribu sampai Rp700 Ribu. “Sekitaran itu saja. Kan banyak cewek lainnya yang kerja juga,” ungkapnya.

Kala melayani kliennya, Lada belum pernah kepergok dalam razia Satpol PP. “Belum pernah. Saya baru di sini (Kota Pontianak-red), sekitar dua bulan,” jelasnya.

Kendati masih “lancar-lancar” saja, Lada tetap amit-amit cabang bayi terjaring razia. “Takutlah…pokonya jangan sampai,” ucapnya.

Online atau Offline, Prostitusi Tetap Bisa Dipidana

Menyikapi maraknya praktik esek-esek di MiChat dan aplikasi lainnya, Pakar Hukum Ilmu Pidana Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Hermansyah memastikan, baik online maupun offline, prostitusi dapat dijerat dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

“Online itu kan sebenarnya hanya sebagai sarana, instrumen, alat, dalam melaksanakan aktivitas terlarang ini,” jelas Hermansyah, dihubungi Netizen.media via seluler, Selasa (11/12/2018) malam.

Namun, kata Hermansyah, yang bisa dipidana dalam kasus prostitusi online, hanya mucikarinya. Masuk pidana murni. Sementara Penjaja Seks Komersil (PSK) dan Pelanggannya hanya sebagai korban.

Hal ini, menurut dia, memang dilematis dari penerapan hukum pidana di Indonesia. Karena KUHP itu merupakan peninggalan Belanda.

Sebagaimana diketahui, hukum itu berdasarkan pada sistem nilai, budaya, agama dan sosial di negara yang bersangkutan. Artinya, dasar-dasar KUHP Indonesia sekarang masih menganut ke Belanda.

“Sampai sekarang, negara-negara Barat terutama, yang berbeda sekali tatanan nilainya dengan negara kita, memandang hubungan seksual bukan dengan pasangan resmi itu bukan pelanggaran hukum,” kata Hermansyah.

Hubungan seksual dengan pasangan tidak resmi dianggap sebagai hak setiap individu untuk memenuhi kebutuhan pribadi. “PSK hanya mereka anggap sebagai penyakit masyarakat, bukan tindak pidana,” terang Hermansyah.

Saat ini, lanjut dia, sanksi bagi para PSK dan Pelanggannya masih sebatas pembinaan, rehabilitasi, dan lain-lain. “Diharapkan setelah kembali ke masyarakat, dia tidak lagi terjerumus ke dunia itu,” timpal Hermansyah.

Sebagai produk Belanda, kata Hermansyah, KUHP Indonesia memang dirasa sangat tidak berkesesuaian dengan cara pandang bangsa Indonesia.

Masih banyak pasal-pasal dalam KUHP yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. “Dalam pandangan budaya kita, hubungan seksual di luar nikah itu dilarang,” tegas Hermansyah.

Senada juga disampaikan Wakasatreskrim Polresta Pontianak, Iptu M Resky Rizal. Menurutnya, tidak jauh berbeda antara prostitusi online dengan offline. Aplikasi perpesanan seperti MiChat itu hanya sebagai sarana.

“Aplikasi ini kan bisa untuk negatif dan bisa juga positif. Ada baiknya kita saling menjaga dan mengingatkan, agar bijak dalam menggunakan Media Sosial,” ujar Rizal.

Dia mengaku, Polresta Pontianak belum pernah menangani kasus prostitusi online. Namun akan terus memantaunya. Jika ditemukan pelaku, atau menerima laporan masyarakat, akan segera ditindaklanjuti sesuai hukum yang berlaku.

“Kita akan tindaklanjuti jika memang menemukan bukti-bukti, baik dari laporan masyarakat maupun penyelidikan kepolisian,” tegas Rizal.

Pihak kepolisian, lanjut Rizal, juga mempunyai bagian pencegahan agar masyarakat tidak terjerumus dalam jerat tindak pidana, baik itu prostitusi online maupun tindak pidana lain.

“Jadi di situ kami membina lewat sekolah-sekolah, misalnya mengimbau anak sekolah untuk fokus pada sekolahnya, berprestasi, tidak berbuat kenakalan remaja, Narkoba, dan lain-lain. Jadi itu salah satu bentuk pencegahan dari kepolisian,” jelas Rizal.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...