Panas Dingin Pilpres di Postingan Bang Midji

postingan midji

Netizen.media – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji sangatlah eksis dalam keterbukaan informasi publik. Mantan Wali Kota Pontianak dua periode itu juga selalu menyampaikan kinerjanya melalui Media Sosial (Medsos).

Dukungan masyarakat kepadanya begitu banyak dalam setiap postingan. Baik itu di Facebook maupun Instagram. Namun postingannya di akun Facebook Bang Midji pada Jumat (04/01/2019) pukul 14.43 WIB ditanggapi berbeda oleh masyarakat.

my home

Pantauan Netizen.media pada Sabtu (05/01/2019) pukul 14.49 WIB, sedikitnya postingan tersebut dibagikan 94 kali, dibanjiri 1.242 komentar dan ditanggapi 1.598 akun yang terdiri atas 1.378 like, 93 emoticon love, 84 tertawa, 18 terkejut, 15 sedih dan 10 marah.

Komentar warganet kali ini, bukan soal kinerja dan bukan juga soal keberhasilan Gubernur Sutarmidji, melainkan karena menyebut nama Jokowi.

“Sesuai perintah Pak Jokowi, Pemda harus jaga stabilitas harga pangan. Alhamdulillah harga beras dan gula terkendali. Gas Melon juga sesuai arahan beliau harus tersedia. Semua kebutuhan pangan di Kalbar sangat aman untuk 6 bulan ke depan,” tulisnya di akun Facebook Bang Midji.

Warganet nampak kecewa dengan postingan Sang Gubernur yang menyebutkan nama Jokowi. Lantaran dianggap mengampanye Calon Presiden (Capres) rival Prabowo Subianto tersebut.

Beberapa warganet menegaskan di kolom komentar, bahwa mereka tidak akan memilih Jokowi, melainkan Prabowo sebagai Presiden pad Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April mendatang. Sebaliknya, walau tidak banyak, ada juga yang mendukung postingan Midji tersebut.

Berikut sejumlah komentar warganet yang kecewa dan beranggapan Bang Midji telah mengampanyekan Jokowi:

“Saya pendukung Pak Midji hanya untuk Gubernur Kalbar. Bahkan puasa nazar saya untuk Gubernur Kalbar yang muslim masih 11 hari lagi dari 30 hari puasa nazar saya. Tetapi untuk Presiden saya tetap No.2 Prabowo Sandi,” tulis akun Tedi Hariyadi yang menjadi komentar terpopluer dalam postingan akun Bang Midji.

“Tak perlu sebut nama Pak Jokowi Pak tanpa intruksi Pak Jokowi, itu sudah kewajiban Bapak sebagai Gubernur mengatur dan mengelola Kalbar supaya semua tersedia…kerja…jangan sambil kampanye,” tulis akun Aly Black.

Ada yang menarik dari komentar akun FB Aly Balck, yakni dibalas oleh akun Armada Lyai. “Kalau kalian jadi Pak Midji kalian juga pasti gitu lo? yang memilih Presiden itu rakyat bukan Gubernur, ngapain kalian benci sama Pak Midji berhubungan dengan Presiden Jokowi? Bukan berarti Pak Midji mendukung Pak Jokowi kan??, kalau Gubernur bermusuhan sama Presiden, Gubernur mau minta bantuan sama siapa?, berpikir yang masuk akal donk kawan…sekali lagi diingatkan, siapapun Gubernurnya, yang memilih Presiden itu rakyatnya bukan Gubernur nya….”.

Dibalas kembali oleh akun Aly Black, “Armada Lyai dibaca semua komentar kawan-kawan itu, adakah yang benci sama Pak Midji..yang mereka tak suka menyebut nama Pak Wiwi aja kok…bulankah di Pemerintahan Daerah sudah tanggung jawab dia, bukankah sekarang sudah otonomi masing-masing  huhhhhh orang Wiwi ini salah paham”.

Komentar terpopuler lainnya oleh akun Andi Idham Ramadhan. “Pak, pada saat Pilkada saya dan kawan-kawan mati-matian membela Bapak, adu argumen dengan orang-orang yang menjelekkan Bapak. Kami tak dibayar, kami juga tak menikmati jabatan, kami bukan Tim Sukses Bapak. Kami yakin di tangan Bapak, Kalbar semakin baik. Tapi kalau tebiat Bapak begini, saya yakin Bapak cukup satu periode. Jangan buat rakyat kecewa dengan sikap politik Bapak”.

Subhanallah Bapak, kenapa bisa begini statusnya. Kalau tak diarahkan, Bapak tak bisa mengambil keputusan sindirikah? Menyejahterakan rakyat bukan atas perintah seseorang Pak, tapi sudah jadi kewajiban seorang pemimpin. Sadar Pak, Bapak jadi orang nomor satu di Kalbar bukan ditunjuk Presiden. Rayat yang memilih Bapak. Jadi kewajiban Bapak menyejahterakan kami yang memilih Bapak,” tulis akun Delly Delta.

“Seharusnya Bapak itu berterimakasih sama pendukung Prabowo, karena merekalah yang membuat Bapak jadi Gubernur sekarang. Jangan jadi kacang lupa kukulitnya Pak. Lima tahun ke depan, kalau ada orang yang lebih berkompeten dari pada Bapak, saya tak akan memilih Bapak lagi! Pakkallah kemarin tak ada pilihan (lain-red),” tulis akun Ummunya Aureyra.

Sementara itu, yang menjadi kategori Penggemar Terbaik dalam postingan Bang Midji, yaitu akun Rena Mardita Rasiadi. Di mana Ia menuliskan komentar. “Sekiranya sesuai amanat konstitusional Bang Midji untuk mensejahterakan rakyat. Sekiranya kamilah rakyat jelata. Tapi tak apa, biar Bang Midji sebot-sebot name Jokowi, kami #2019PrabowoPresiden. Semangat”.

Dan masih banyak lagi komentar yang masuk pada postingan akun Bang Midji, rata-rata dari masyarakat pendukung Prabowo-Sandi yang juga mendukung Sutarmidji memenangkan Pilgub Kalbar.

NasDem Tak Habis Pikir

Menanggapi panas dingin Pilpres di postingan akun Bang Midji itu, Ketua DPW Partai Nasional Demokrat (NasDem) Kalbar, Syarif Abdullah Alkadrie meminta masyarakat tidak berlebihan dalam mengomentari postingan Midji tersebut.

Syarif Abdullah Alkadrie
Syarif Abdullah Alkadrie

Lantaran Jokowi adalah Presiden Indonesia, dan Sutarmidji adalah Gubernur Kalbar. Sehingga secara regulasi hirarkinya harus mengikuti kebijakan Pemerintah Pusat, dalam hal ini Presiden.

“Soal komentar-komentar itu, saya juga heran. Marilah kita tunjukkan masyarakat Kalbar yang taat konstitusi. Jokowi masih Presiden. Kemudian jika tidak terpilih nanti, Jokowi itu masih Presiden sampai bulan November 2019,” jelas Syarif Abdullah ketika dikonfirmasi Netizen.media.

Syarif Abdullah yang merupakan kader partainya Surya Paloh, pendukung Capres Jokowi ini, pada Pilgub Kalbar lalu merupakan Tim Pemenangan Midji-Norsan.

Menurut Syarif Abdullah, tidak ada yang salah dengan apa yang disampaikan Gubernur Kalbar, Sutarmidji melalui akun Facebooknya Bang Midji tersebut. “Beliau (Midji-red) mengucapkan dan menjalankan sesuai arahan. Tetapi kok ditanggapi berlebihan dalam hal ini, kenapa dikaitkan dengan Capres,” sesalnya.

“Marilah kita cerdas, negara kita negara demokrasi. Kita lihat di bulan April, siapa yang dipilih secara mayoritas oleh rakyat Indonesia, itulah Presidennya,” tantang Syarif Abdullah.

Jangan gara-gara seperti ini, lanjut Syarif Abdullah, lalu masyarakat Kalbar tidak dewasa dalam berdemokrasi. “Midji-Norsan sudah kita pilih bersama-sama. Tetapi ketika Gubernur terpilih ini menjalankan pemerintahan yang memang secara regulasi harus mengikuti kebijakan Pusat, seharusnya bukan menjadi masalah,” paparnya.

Ia pun sudah melihat seperti apa komentar masyarakat Kalbar melalui akun Facebook di postingan akun Bang Midji tersebut. “Tidak paham saya melihat seperti ini, di-bully sebegitu rupa. Ini kan politik, besok bisa biru, merah, putih dan bisa saja hitam,” ujar Syarif Abdullah.

“Agama kita (Islam) sudah menuntun, jangan membenci berlebihan dan jangan cinta berlebihan,” sambung Syarif Abdullah.

Legislator Senayan ini mengimbau masyarakat Kalbar untuk cerdas dan damai dalam berdemokrasi, jangan gara-gara pilihan Capres berbeda, ukhuwah jadi tidak harmonis.

Kemudian, tambah dia, tidak mengaitkan kinerja yang disampaikan Gubernur Kalbar yang benar adanya, dengan Pemilu. Masalah pandangan politik berbeda, silakan saja.

“Sejauh ini Gubernur Kalbar cukup baik, dan tanggung jawab kita adalah mengawalnya bekerja secara maksimal untuk Kalbar semakin baik lagi,” imbau Syarif Abdullah.

Gerindra: Pak Midji Mesti Pikirkan Kembali Arah Politiknya

Bila partai pengusung petahana nampak kesal dengan bully-an warganet terhadap postingan akun Bang Midji, lain halnya dengan oposisi, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Ketua DPD Partai Gerindra Kalbar, Suriansyah mengatakan, komentar warganet di postingan akun Bang Midji itu wajar saja.

Suriansyah
Suriansyah

Menurutnya, Midji-Norsan dipilih masyarakat sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Kalbar, lantaran dua hal penting, yakni:

  1. Kesadaran politik umat Islam yang sangat meningkat menyusul Aksi 212 dan Pilgub DKI Jakarta.
    Menurut Suriansyah, pemilih Midji-Norsan yang berlatarbelakang beragama Islam sama dengan pemilih Prabowo-Sandi. Walaupun Midji-Norsan didukung Partai NasDem, Golkar dan lain-lain yang Pro Jokowi.
    Tetapi ingat, di situ juga ada PKS. “Karena keterbatasan pilihan, maka umat Islam lebih cenderung memilihi Midji-Norsan,” terang Suriansyah.
  2. Berkaitan dengan prestasi calon
    Menurut Suriansyah, kondisi di Pilgub Kalbar itu, juga sama dengan penjatuhan pilihan masyarakat kepada Capres-Cawapres, Probowo-Sandi.
    “Jadi pemilih kalangan muslim dan nonmuslim, rasionalnya tidak percaya lagi kalau Jokowi mampu memperbaiki kondisi negara. Terutama soal keterpurukan ekonomi masyarakat dan kondisi sosial serta politik bangsa,” ujar Suriansyah.

“Dari fakta di atas dapat disimpulkan Bahwa pemilih Midji adalah pemilih Prabowo. Sehingga ketika Midji lebih mendukung Jokowi, maka pemilih Prabowo yang memilih Midji menjadi kecewa atau protes,” jelas Suriansyah.

“Apalagi sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Midji pada Pilpres 2014 adalah pendukung Prabowo,” sambungnya.
Ketu DPRD Provinsi Kalbar ini pun menyarankan Midji untuk memikirkan kembali arah politiknya dalam Pilpres 2019. Supaya tidak merugikan dukungan politik dan harapan masyarakat Kalbar.

“Walaupun kita juga maklum, Pak Midji lebih aman jika memilih Jokowi, baik secara hukum maupun dukungan Pemerintah pusat saat ini.  Tetapi kita kan belum tahu siapa pemenang Pilpres mendatang,” kata Suriansyah.

Ia sangat yakin Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019. Dann dipastikan dukungan Pemerintah Pusat akan lebih besar lagi untuk Kalbar. “Kita sangat optimis Kalbar akan memenangkan Prabowo-Sandi,” tegasnya.

Optimistis Suriansyah ini tidaklah berlebihan, karena didasarkan pada hasil analisa Pilgub Kalbar lalu yang dimenangkan Midji-Norsan.

“Calon atas nama Karolin saat itu sangat jelas diusung PDIP, Demokrat dan PKPI, hampir sebagai besar pemilih Jokowi. Sedangkan pemilih Milton Crosby hampir dipastikan pemilih Prabowo karena diusung PAN dan Gerindra,” pungkas Suriansyah.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...