Oknum Guru di Sambas Jual Buku ke Siswa?

Suriansyah: Jangan Hanya Dilihat dari Satu Sisi

Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Suriansyah saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (09/01/2019). Netizen.media.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Suriansyah saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (09/01/2019). Netizen.media.

Netizen.media – Pihak sekolah sudah jelas dilarang menjual buku matapelajaran ke peserta didik. Ironisnya, di Kabupaten Sambas terdapat oknum guru yang menjual buku ke para siswanya.

“Kita sangat menyayangkan hal itu. Karena sekarang memang tidak diperbolehkan menjual buku ke peserta didik,” kata Suriansyah, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, ditemui di ruang kerjanya, Rabu (09/01/2019).

my home

Informasi guru menjual buku ke peserta didiknya ini memang sudah menjadi rahasia umum, beberapa orangtua siswa seringkali mempertanyakan hal tersebut.

Indikasi oknum guru yang menjual buku ke siswa, menurut Suriansyah, tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. “Saya sendiri melihatnya dari sisi yang berbeda,” kata Legislator Kalbar Daerah Pemilihan (Dapil) Sambas ini.

Suriansyah menjelaskan, sesuai aturan memang guru dilarang menjual buku ke siswa. Namun, harus dipelajari atau diteliti lebih dalam.

“Apakah maksudnya untuk mendapat keuntungan atau membantu pembelajaran siswa. Masalah itu tidak bisa dianggap sepele,” kata Suriansyah.

Ketua DPD Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kalbar cenderung berpikir positif, bahwa oknum guru itu menjual buku guna memenuhi tuntutan pembelajaran siswa.

“Sebab ketersediaan buku atau alat peraga lainnya memang sangat terbatas. Terutama di sekolah-sekolah agak dalam (pelosok-red),” ujar Suriansyah.

Tidak dimungkiri, hingga kini cukup banyak daerah di Provinsi Kalbar, tidak terkecuali di Kabupaten Sambas yang ketersediaan buku di perpustakaan sekolah masih sangat terbatas.

Bagaimanapun juga, lanjut Suriansyah, guru dituntut untuk menghasilkan lulusan dengan standar Nasional. “Kalau tidak dibantu ketersediaan buku, bagaimana dengan tingkat kelulusan siswa kita nanti,” tuturnya.

Permasalahan ini tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. “Jangan kita hanya menuduh oknum guru itu (menjual buku) untuk mendapatkan keuntungan yang melebihi batas kewajaran,” ingat Suriansyah.

Kalaulah memang oknum guru dimaksud memang benar menjual buku ke siswa untuk mendapat keuntungan–misalnya dilihat dari harganya yang melampaui batas kewajaran–patut juga diperhatikan ihwal kesejahteraan guru.

“Banyak guru itu bukan ASN (Aparatur Sipil Negara). Mereka honorer yang penghasilannya hanya Rp400 sampai Rp600 Ribu per bulan. Mau makan dari mana kalau seperti itu,” ucap Suriansyah.

Olehkarena Suriansyah menegaskan, masalah oknum guru yang menjual buku ke siswanya ini tidak bisa dipandang dari satu aspek saja. “Banyak dimensi yang harus dilihat,” tutupnya.

river x
Berita Terkait
Komentar
Loading...