Pendidikan di Indonesia Masih Terlalu Pragmatis

Aswandi
Aswandi

Netizen.media – Secara konseptual, pendidikan di Indonesia belum matang, masih terlalu pragmatis atau lebih mengutamakan kepraktisan. Ini yang harus diubah, agar negeri ini siap menghadapi bonus demografi 2045.

“Bagaimana supaya anak kerja, bagaimana anak sekolah, bagikan kartu pintar, revolusi mental, sangat pragmatis. Padahal pendidikan tidak boleh terlampau pragmatis,” kata Aswandi, Pengamat Pendidikan dari Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Program Revolusi Mental yang dicanangkan pemerintah saat ini, menurut Aswandi, tidak mungkin berhasil. “Tetapi duitnya habis miliaran untuk iklan,” kata Aswandi.

Menurut Aswandi, pendidikan karakter itu tidak seperti dalam program revolusi mental. “Sekarang seakan orang sekolah itu hebat. Padahal jika dilihat, orang-orang hebat tidak bersekolah,” jelasnya.

Pola berpikir mencari nilai terbaik di sekolah yang pragmatis inilah yang harus diubah. Seharusnya, anak tidak usah dididik menjadi seorang yang takut gagal karena Ujian Nasional (UN).

“Anak sekarang ikut Ujian Nasional karen takut tidak lulus. Jadi mereka belajar karena takut gagal, bukan karena ingin sukses,” kata Aswandi.

Anak-anak, lanjutnya, mestinya didik dengan mental kompetisi. “Ini yang kita siapkan dalam Ujian Nasional. Bukan ujian nasionalnya yang penting sebetulnya. Yang penting itu anak belajar,” jelas Aswandi.

Jika anak dididik untuk takut gagal, menurut Aswandi, sang anak hanya akan memiliki mental bertahan untuk tidak kalah. Seperti tim sepakbola yang hanya mengincar hasil seri dalam suatu pertandingan.

Model pendidikan seperti ini, ungkap Aswandi berbeda dengan apa yang diterapkan di Amerika Serikat (USA). “Di Amerika itu anak-anaknya ingin jadi pemenang,” katanya.

Olehkarenanya, Aswandi seringkali mengatakan, kalau konsep pendidikan di Indonesia sekarang tidak bisa diharapkan. “Jadi yang tidak terbangun itu semangat untuk berkompetisi,” tegasnya.

Melihat hal ini, arah perubahan dalam dunia pendidikan nantinya, kata Aswandi, jatuh di tangan Presiden baru. Ia menilai, perubahan bisa saja terjadi jika melirik Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 02, Prabowo-Sandi yang memiliki visi misi lebih baik.

“Kalau Calon 02 menang, ada perubahan. Karena otak untuk memajukan pendidikan ada di Sandiaga. Kita mesti optimis. Anak harusnya tidak lagi menganggap pegawai negeri sebagai kelompok priyayi,” ujarnya.

Jika anak-anak Indonesia sudah memiliki semangat untuk berkompetisi melalui konsep pendidikan yang tidak terlalu pragmatis, bonus demograsi 2045 akan siap dihadapi bangsa ini.

Sebagaimana diketahui, pada 2045 jumlah penduduk Indonesia diprediksikan akan didominasi usia produktif (15-64 tahun), mencapai 70 persen. Sementara sisanya, 30 persen tidak produktif (di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun).

Seiring dengan dominannya penduduk berusia produktif ini, kemudian muncul istilah generasi emas. Generasi-generasi muda yang dianggap dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Pemerintah melalui dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun Menko Perekonomian, mencanangkan Indonesia menjadi negara maju, mandiri, makmur, dan adil pada 2025.

Pada tahun tersebut dicanangkan pendapatan per kapita sekitar U$D15 Ribu, serta diharapkan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi 12 besar dunia.

Kemudian pada tahun 2045, diproyeksikan menjadi salah satu dari 7 kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan pendapatan per kapita U$D 47 Ribu.

Semua itu disusun setelah Pemerintah melihat bonus demografi saat Indonesia berumur 100 tahun. Sehingga dibutuhkan berbagai persiapan untuk menciptakan genarasi yang siap berkompetisi.

“Semua tergantung kesiapan SDM kita di usia produktif saat itu. Apakah merosot atau menanjak. Mereka harus didik dengan benar,” kata Aswandi.

Bonus demografi ini hendaknya disikapi sebagai sebuah peringatan agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. “Kalau tidak dipersiapkan, bukannya jadi generasi emas, perak pun tidak dapat. Negara tidak maju nanti. Jadi, hati-hati,” tutup Aswandi.

my home
Berita Terkait
river x
Komentar
Loading...