Kubu Raya Tolak Penanyangan Film “Kucumbu Tubuh Indahku”

Film LGBT

Netizen.media – Bikin resah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya pun melayangkan surat penolakan terhadap penayangan film “Kucumbu Tubuh Indahku” ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Provinsi Kalimantan Barat.

Dalam surat yang ditandatangani Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, Kamis (26/04/2019) ini dijelaskan beberapa alasan yang menjadi film tersebut tidak layak tayang, di antaranya:

  • Meresahkan masyarakat
  • Adegan film tersebut bisa mendorong perilaku seksual menyimpang
  • Bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diakui di Indonesia
  • Menggiring opini bahwa penyimpangan seksual itu biasa dan bisa diterima

Atas dasar itulah Pemkab Kubu Raya menolak “Film LGBT” tersebut. Tujuannya, memelihara masyarakat dari dampak yang ditimbulkan oleh pelaku penyimpangan seksual di Kabupaten Kubu Raya serta untuk penguatan ketahanan keluarga.

Surat Bupati Kubu Raya
Surat Bupati Kubu Raya

Surat atas nama Pemkab Kubu Raya ini pun ditembuskan kepada Gubernur Kalbar, Pimpinan Managemen Bioskop Transmart KKR, Ketua MUI KKR dan Ketua KPAID KKR.

Surat Terbuka Sang Sutradara

Terkait banyaknya kalangan yang menolak penayangan film “Kucumbu Tubuh Indahku”, sang Sutradara Garin Nugroho menyampaikan membuat Surat Terbuka di Media Sosial (Medsos).

Garin mengaku prihatin atas “Petisi untuk Tidak Menonton Film Kucumbu Tubuh Indahku” yang tersebarluas melalui Medsos.

Menurutnya, ini penghakiman dan sensor massal terhadap karya dan pikiran atas keadilan, tanpa proses dan ruang dialog. Bahkan tanpa menonton telah memviralkannya.

“Penghakiman massal lewat media sosial berkali terjadi pada karya seni dan pikiran atas keadilan,” tulis Garin dalam surat terbukanya.

Baginya, gejala ini menunjukan bahwa Medsos telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan. Melahirkan anarkisme massal.

“Anarkisme tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir dan mengancam kehendak atas hidup bersama manusia untuk bebas dari berbagai betuk diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang utama demokrasi,” kata Garin.

“Bagi saya, kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama keberagamaan tanpa diskriminasi dan kekerasan, tidak akan pernah mati dan dibungkam oleh apapun. Baik sengaja hingga anarkisme massal tanpa berkeadilan,” tutup Garin.

Sementara itu, salah seorang warga, Abdul Hakim yang pernah menonton film ini menilai besutan Garin Nugroho ini sangat indah.

Menurut Hakim, ini merupakan salah satu realita budaya seni tari yang dimiliki Indonesia. “Ini sebuah karya seni film yang amat realistis dan dihidupkan dengan sangat baik oleh ekspresi hebat para pemainnya,” katanya.

Lagu “Apatis” yang dinyanyikan Mondo Gascaro sebagai penutup film, ditambah Hakim, benar-benar menjadi klimaksnya.

“Sampai film usai dan layar kembali kosong, bersama beberapa penonton kami masih duduk termangu seperti disihir oleh keindahan film itu,” aku Hakim.

my home
Berita Terkait
river x
Komentar
Loading...