Siapapun Boleh Awasi Karhutla, Kapolda: Mari Awasi Bersama

Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono diwawancarai sejumlah wartawan usai Diskusi Pencegahan Karhutla, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (21/05/2019). –Foto: Humas Polda Kalbar–
Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono diwawancarai sejumlah wartawan usai Diskusi Pencegahan Karhutla, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (21/05/2019). –Foto: Humas Polda Kalbar–

Netizen.media – Supaya bencana kabut asap tidak terus berulang di Provinsi Kalbar, semua pihak harus bersinergi, baik dalam pencegahan, penindakan maupun pengawasan terhadap masalah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

“Siapapun boleh mengawasi soal Karhutla. Makanya, mari awasi bersama,” ajak Irjen Pol Didi Haryono, Kapolda Kalbar dalam Diskusi Pencegahan Karhutla di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (21/05/2019).

Diskusi dengan tema “Cegah Karhutla Kalimantan Barat Bersiaga” ini diikuti Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalbar, Baginda Polin Lumban Gaol, dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalbar, TTA Nyarong.

Kemudian CEO Perkebunan Sinar Mas Agribusiness and Food Wilayah Kalimantan Barat, Susanto beserta beberapa pimpinan perusahaan perkebunan kelapa sawit; anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar.

Dalam kesempatan tersebut, Didi mengungkapkan, pemetaan wilayah sudah dilakukan terkait Karhutla ini; setidaknya 182 desa di Kalbar yang rawan, karena lahannya banyak gambut.

Supaya gambut tersebut tidak terbakar, seluruh pihak diharapkan untuk memastikan di Kalbar ini tidak ada lagi yang membuka lahan atau kebun dengan cara membakar (zero burning).

Apabila sudah terbakar, ingat Didi, maka berbagai persoalan akan timbul. Di antaranya kerusakan lingkunagan, bencana kabut asap dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Selama ini, kata Didi, berbagai upaya pencegahan Karhutla terus berjalan, seperti rutin patroli dan sosialisasi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat.

Sementara untuk penindakan, Didi memastikan pihaknya tidak akan pandang bulu. Siapapun pelakunya, akan ditindak sesuai hukum yang berlaku. “Kita semua berharap 2019 ini Zero Karhutla,” ucapnya.

Seperti diketahui, untuk tiga tahun terakhir saja, luasan Karhutla di Kalbar rata-rata puluhan ribu hektar. Pada 2016 tercatat 43.800 hektare areal yang terbakar. Kemudian pada 2017 sedikit menurun menjadi 20.250 hektare. Demikian juga pada 2018.

Karhutla telah banyak menimbulkan kerugian di Kalbar. Selain merusak lingkungan dan mengganggu aktivitas perekonomian, juga menyebabkan 2.000 orang terserang ISPA.

Komitmen Perusahaan Perkebunan

Sementara itu, CEO Perkebunan Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto mengatakan, perusahan mempunyai komitmen untuk turut berkontribusi dalam mencegah Karhutla di Kalbar. “Dengan melaksanakan Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA),” ungkapnya.

Susanto menjelaskan, DMPA yang dilaksanakan sejak 2016 ini merupakan program pemberdayaan masyarakat secara partisipatif. Supaya masyarakat memiliki kemampuan dalam mencegah dan mengatasi Karhutla.

“Program DMPA kami rancang dengan memahami kebutuhan masyarakat dari desa binaan kami. Tahap pertamanya fokus pada pencegahan dan mengatasi kebakaran,” ungkap Susanto.
Terkait program DMPA ini, ungkap dia, sudah dilakukan pendampingan terhadap 8 desa di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

Program ini berkontribusi positif dalam pencegahan Karthutla di Kalbar. Dapat dilihat dari jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Ketapang, pada 2018 menurun 89 persen dibandingkan 2015.

“Program DPMA telah mengurangi kebakaran di hutan, perkebunan dan lahan di daerah sekitar operasional kami dari tahun ke tahun,” ucap Susanto.

Pencapaian ini, menurut Susanto, tidak akan mungkin terjadi tanpa kerja sama Tim Tanggap Darurat, Pemadam Kebakaran, petani dan Pemerintah Daerah.

“Kami ingin mengulangi kesuksesan ini pada 2019, terus waspada saat menuju bulan kering, serta terus melindungi hutan dan masyarakat kita,” ujar Susanto.

Tahap berikutnya, lanjut dia, mencoba untuk memberikan solusi agar masyarakat mau dan bisa meninggalkan pola bertani dengan membakar, melalui Pertanian Ekologis Terpadu (PET).

Susanto menjelaskan, melalui PET ini masyarakat tetap dapat bertani, mendapatkan pangan yang dibutuhkan, bahkan produktivitasnya lebih baik dan pengeluaran yang lebih sedikit untuk mengelola pertanian.

Bersama Masyarakat Siaga Api (MSA) dan pemerintah setempat, masyarakat desa diajak mengikuti proses belajar dan praktik lapangan atau disebut Sekolah Lapangan PET. Kemudian mereplikasikannya di kebun masing-masing.

Untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini, program PET juga telah menjadi muatan lokal di SMP Negeri 10 Satap. “Ilmu dan pengetahuan yang didapatkan di lahan belajar, diperkenalkan dan diajarkan kepada anak-anak sekolah agar mereka dapat menjaga lingkungan melalui pola bertani tanpa membakar,” papar Susanto.

Program PET ini mendapat sambutan positif di masyarakat. Seperti diakui Nimia yang setelah bergabung mendapatkan penghasilan tambahan Rp1 Juta sampai Rp1,2 juta per bulan.

“Tentu ini sangat membantu kami dalam membantu keuangan keluarga. Selain itu, kami juga menjadi lebih paham cara bertani dengan teknik yang ramah lingkungan dan tidak membakar lagi,” kata Nimia.

my home
Berita Terkait
river x
Komentar
Loading...