Stop!!! Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

Henny Dwi Rini
Henny Dwi Rini

Netizen.media – Siapapun yang melihat, mendengar atau mengetahui adanya tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan, diharapkan segera mengadu ke pihak berwajib. Supaya pelakunya bisa segera dikurung.

Menurut Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Henny Dwi Rini, selama ini pelaku kekerasan terhadap anak dan perempuan sulit ditangkap, lantaran tidak ada yang segera melaporkannya.

Untuk membangun kesadaran masyarakat supaya segera melaporkan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, memang tidak mudah, karena dihadapkan pada persoalan yang dilematis.

Apabila tidak melapor ke pihak berwajib, niscaya tindak kekerasan akan terus berulang. Namun bila malapor, malah dianggap mencemarkan nama baik keluarga. Ini yang menjadi persoalan di masyarakat.

Olehkarenanya, menurut Henny, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang tepat tentang hal ini; bahwa melaporkan ke pihak berwajib sama saja menyelamatkan atau melindungi anak dan perempuan dari tindak kekerasan.

“Contohnya tindak kekerasan atau pelecehan. Kalau perempuan tersebut tidak mengadu, secara hukum dia tidak terlindungi, karena dia tidak mengaku,” kata Henny, saat ditemui Netizen.media di Ruang Komisi V DPRD Provinsi Kalbar, Rabu (29/05/2019).

Dia menegaskan, diperlukan upaya-upaya riil untuk membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam upaya menyetop tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan.

“Hingga kini, kekerasan terhadap anak dan perempuan masih sering terjadi dalam bentuk yang cukup variatif. Tidak lagi satu, melainkan banyak dimensi, misalnya usia, status sosial dan sebagainya,” ungkap Henny.

Selain itu, menurut Henny, perempuan selalu menjadi objek kekerasan. Misalnya dalam kasus penyelundupan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), penyekapan, perampokan, penganiayaan, pembunuhan, human trafficking atau perdagangan orang, dan perkosaan.

Untuk kasus perkosaan, kata Henny, pelakunya seringkali orang dekat, bisa saja orang yang memiliki hubungan darah, seperti, kakak, paman kakek atau ayah sendiri.

Parahnya lagi, tindak perkosaan ini sebagian dilakukan tidak cukup hanya sekali, hingga korbannya hamil dan melahirkan.

“Solusi untuk mengantisipasi hal semacam ini adalah dengan memerhatikan kondisi lingkungan, pergaulan serta kuatkan iman dan takwa,” ujar Henny.

Sementara untuk kasus perampokan, ungkap Henny, perempuan yang menjadi korbannya bukan hanya dari keluarga kaya tetapi juga miskin.

Perempuan sebagai individu otonom dan memiliki kedaulatan kuat untuk mandiri dan mendapatkan hak-haknya menikmati hidup, juga sering menjadi korban pelecehan seksual.

“Sanksi hukumnya itu sudah jelas dan berat sekali. Perda Perlindungan Anak dan Perempuan sudah bisa mengatasinya. Namun secara hukum, korban bisa terlindungi kalau dia melapor,” jelas Henny.

Dia menilai, kekerasan terhadap perempuan disebabkan kulktur dan struktur yang timpang gender. “Perlu penyadaran kesetaraan dan keadilan gender bagi setiap orang. Sehingga, kekerasan terhadap orang dapat dihapuskan,” terang Henny.

Sementara terkait kontroversi penyelesaian kasus-kasus kekerangan terhadap anak dan perempuan, harus dilakukan dengan memperbaiki substansi, struktur, dan budaya hukum yang bias.

Sebab itu, perlunya pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan. Paling tidak, harus mencakup empat tahap yaitu penyadaran, penyembuhan, perlindungan dan kerja sama.

my home
Berita Terkait
river x
Komentar
Loading...