Bisnis Haram Penyelundupan Mobil Asal Malaysia

Entikong Surga Para Penyelundup

Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Entikong, Akwan Anas.
Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Entikong, Akwan Anas. Netizen.media

Netizen.media –Perbatasan Entikong Kalbar-Tebedu Malaysia masih menjadi ajang penyelundupan barang yang sudah berjalan puluhan tahun. Sindikat yang dibantu oknum aparat hukum masih leluasa “bermain”, salahsatunya penyelundupan berbagai jenis mobil mewah dan mobil antik yang merugikan negara dari sektor kepabeanan.

Dari ribuan kendaraan yang masuk ilegal ke Kalbar, hanya sedikit saja yang tertangkap. Sisanya lolos diperjualbelikan dan merambah ke provinsi lain, salahsatunya ke Jawa Tengah. Fakta terbaru Minggu (04/08/2019) kendaraan jenis Hardtop Land Cruiser HJ47 berwarna kuning berplat SA 1653 E masuk ke Indonesia tanpa didukung dokumen perjalanan resmi. Mobil tersebut telah berganti warna dan telah dikirim lintas pulau melalui Kalimantan Tengah dan Kumai.

Mobil Hardtop Land Cruiser HJ47 yang diselundupkan
Mobil Hardtop Land Cruiser HJ47 yang diselundupkan. Netizen.media

Anehnya, pada Jumat (09/08/2019) mobil sejenis namun warna putih dengan plat kendaraan yang sama dengan mobil yang masuk sebelumnya lagi-lagi masuk ke Indonesia secara ilegal alias tanpa didukung dokumen perjalanan resmi. Masih mobil yang berplat sama juga ada di PLBN dijadikan seperti monumen. Mobil-mobil tersebut terbilang antik dan dijual di Indonesia berkisar Rp500 juta-Rp700 juta.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Cabang Kejaksaan Negeri (Kacabjari) Entikong, Akwan Anas kepada Netizen.media beberapa waktu lalu menjelaskan pihaknya tidak menutup mata terhadap fenomena tindakan ilegal di perbatasan. “Semua pihak yang tergabung dalam custom, imigration, quarantine dan security atau CIQS memang harus bersinergi. Pada kasus itu perlu pengamanan dan penegakkan hukum untuk memberikan efek jera,” kata Akwan.

Akwan tidak memungkiri jika ada mobil asal Malaysia yang masuk ke Indonesia via Entikong kemudian tidak pernah lagi mengurus Rotek (Tanda Khusus Kendaraan Bermotor Lintas Batas yang dikeluarkan Departemen perhubungan RI) untuk perpanjangan 30 hari ke depan, maka bisa terindikasi berganti plat indonesia dan terdaftar. “Padahal itu tidak bisa begitu saja karena ada aturannya. Kami melihat ada sindikasi dalam kasus ini,” ujar Akwan.

Informasi sementara menyebutkan satu sindikat yang sekarang beroperasi aktif antara lain oleh HK asal Jakarta, YA, TM asal Kalbar, MFD asal Kumai Kalimantan Tengah dan penjualnya MKN Bin H asal Malaysia.

Lain halnya mobil mewah yang harganya miliaran rupiah juga sering diselundupkan melalui “jalur tikus” dan hanya beberapa unit saja yang berhasil digagalkan aparat. Salahsatunya hasil kerja keras aparat dari Satgas Pamtas Yonif Mekanis 643/WNS pada 28 Juli 2019. Satgas mengamankan 1 unit mobil Porsce 91 Seri Carrera seharga Rp3 Miliar dari Malaysia di wilayah perbatasan jalur tikus Gunabangir Kecamatan Sekayam Entikong Kalbar.

Barang Bukti Mobil Porsce 91 Seri Carrera
Barang Bukti Mobil Porsce 91 Seri Carrera. ISTIMEWA

Penyelundupan tersebut berawal dari informasi masyarakat yang mengatakan akan ada mobil mewah masuk dari Malaysia dan ditindaklanjuti anggota Pamtas dengan pengintaian. Mobil mewah tersebut ditemukan tanpa pengemudi. Lantaran tidak ada yang datang mengambil mobil itu, maka diamankan anggota Pamtas. “Penggagalan mobil selundupan ini merupakan sinergitas dari seluruh aparat yang ada di perbatasan,” kata Mayor Inf Dwi Agung Prihanto, Satgas Pamtas Yonif 643/WNS dalam sebuah video yang sudah tersebar di jejaring sosial.

Berdasarkan Data Dinas perhubungan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, banyaknya  kendaraan asal Malaysia dan Brunaidarusalam yang tidak kembali maupun tidak melapor kepada petugas pada periode 2017 sebanyak 3881 unit yang masuk, dan yang keluar wilayah Indonesia sebanyak 3616 unit, yang tidak kembali sebanyak  265 unit kendaraan.

Jumlah tersebut menurun pada periode 2018. Kendaraan masuk berjumlah 3012 unit, keluar wilayah Indonesia sebanyak 2871 unit dan yang tidak kembali sebanyak 141 unit kendaraan.

Lemahnya sistem pengawasan terhadap keberadaan kendaraan asal Malaysia dapat berakibat maraknya penjualan kendaraan Malaysia di Indonesia melalui prosedur (Rotek) maupun yang tidak melapor. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah kendaraan yang belum melapor atau tidak kembali ke negeri asalnya. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum  kelompok atau perorangan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Berita Terkait

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.