Bunda Fitri, Perawat ‘Sinden’ di Zaman Milenial

Fitriani (42) bertekad melestarikan musik tradisional Indonesia. Ibu dua anak ini memilih melantunkan genre musik campursari dengan gaya vokal Sinden.

Fitriani, Sinden Asal Rasau Jaya III
Fitriani, Sinden Asal Rasau Jaya III. ISTIMEWA

Dwi Suprihadi, Pontianak

Fitriani tidak pernah kepikiran untuk menjadi pesinden. Rayuan seorang kerabatnya membuat ia tergugah mengolah tarik suara, khususnya genre campursari.

“Waktu itu saya diajak teman untuk nyanyi di salah satu radio Kota Pontianak,” kenang Fitriani menceritakan karir bernyanyi-nya kepada Jurnalis Netizen.media di Rasau Jaya III, Kubu Raya, Senin (09/09/2019).

Meski baru sekali bernyanyi, kemampuan Fitriani membuat manajemen radio kepincut mengundangnya kembali untuk menyinden. “Saya ditawari nyanyi lagi di radio-radio lain yang ada di Pontianak,” ucap perempuan yang sudah lima tahun jadi pesinden ini.

Bernyanyi dari stasiun radio ke stasiun radio lainnya, membuat nama Fitriani masyur. Ia mulai mendapat tawaran sebagai pesinden di desanya, Rasau Jaya. Bahkan ia kerap diajak oleh beberapa kelompok campursari di kampung halamannya.

Tekad Fitriani untuk mengabadikan genre musik ‘Sinden’ terkabul. Hingga saat ini, dia sudah manggung sana sini. Dari satu daerah ke daerah lainnya.

“Di Kubu Raya, semua daerah hampir pernah jadi tempat manggung saya. Pengalaman paling mengesankan waktu harus nyinden ke daerah pelosok-pelosok,” kisahnya.

Bernyanyi dengan gaya sinden memang cita-cita Fitriani untuk melestarikan budaya. Sehingga ia tidak pernah risau soal bayaran yang ia terima usai manggung.

Kepada Netizen.media, perempuan yang kerap disapa Bunda Fitri ini mengaku menyinden hanyalah ‘proyek’ sampingan. Tarif nyinden pun tidak menentu.

Ia tak pernah melihat besar atau kecilnya bayaran. Baginya, menyinden adalah hobi sekaligus upaya menjaga eksistensi musik tradisional. Ia berpendapat, menjadi seorang pesinden, berarti sama dengan menjaga dan melestarikan tradisi Jawa.

“Bayaran manggung itu tergantung lokasi. Rata-rata dibayar Rp300 ribu. Ya, kalau dihitung-hitung ga sesuai. Malahan kadang harus nombok. Tapi, karena hobi, ya tetap dilakoni,” ucapnya sambil tertawa.

Sebagai anak ibu pertiwi, Bunda Fitri sangat menyayangkan, apabila tradisi nyinden tidak ada yang melestarikan. Sehingga eksistensi genre musik asli Indonesia ini bisa saja lenyap dari peradaban.

Melihat situasi ini, ia berharap, kawula muda khususnya perempuan Jawa, mau belajar nyinden. Sehingga eksitensi sinden tidak tergerus musik modern.

“Harus ada yang meneruskan sebagai pesinden. Supaya tidak punah. Perempuan Jawa mesti tergerak belajar sinden. Agar tradisi nyinden tidak hilang seiring berkembangnya zaman,” pesan Fitri.

my home
Berita Terkait
river x
Komentar
Loading...